Beberapa bulan terakhir, banyak sekali liputan mengenai Gunung Bromo yang statusnya ditingkatkan. Melihat liputan-liputan itu jadi ingin flashback perjalanan ke Bromo 2 tahun yang lalu. Waktu itu memang penasaran, mengapa foto-foto gunung Bromo dan gunung Batok selalu terlihat cantik. Apakah memang demikian jika dilihat langsung?
Jadi, cuti tahun 2009 saya dan teman-teman pergunakan salah satunya untuk berkunjung ke sana. Semua informasi tentang perjalanan menuju ke sana kami peroleh dari internet.
Perjalanan kami mulai berangkat dari Jakarta menggunakan pesawat pagi menuju Surabaya. Sesampainya di Djuanda Airport, kami melanjutkan perjalanan ke Terminal Purabaya menggunakan Damri Bandara. Kemudian di Terminal Purabaya, kami lanjutkan menggunakan Bus menuju Terminal Probolinggo. Setelah perjalanan kurang lebih 2 jam, akhirnya sampai juga kami di terminal Probolinggo. Di sana ada beberapa pilihan angkutan menuju desa Cemoro Lawang. Dan pada akhirnya kami memilih angkutan serupa Elf. Tapi jangan dibayangkan angkutan kami adalah angkutan yang nyaman, karena mobil kami mobil tanpa AC dan di dalamnya mengangkut kurang lebih 12 orang. hampir setengah penumpangnya adalah orang asing backpacker. Belum lagi di perjalanan ketika hujan, air pun masuk ke dalam karena atap mobil yang bocor. sehingga saya harus menadahkan kantong plastik agar tidak basah. Di tengah-tengah perjalanan, ada juga penumpang yang naik mobil kami sambil membawa pohon-pohon jagung kering yang kemudian diletakkan di atas mobil kami. Entah seperti apa bentuknya mobil kami ketika itu. Mungkin terlihat bukan mobil yang untuk mengangkut orang. Tapi itulah seninya. Seni dari sebuah perjalanan. Menyatu dengan masyarakat sekitar. Dalam perjalanan, pemandangan menuju ke sana sangat indah, pegunungan, jurang, pohon cemara dan sedikit kabut. Sampai akhirnya kami tiba di penginapan Cemara Indah. Kami memilih penginapan ini karena viewnya langsung ke kedua gunung itu. Sambil menunggu malam, kami berjalan-jalan di sekitar penginapan. Kami juga sudah merental mobil untuk perjalanan ke Pananjakan keesokan subuh.
Ketika waktu menunjukkan pukul 04.00 pagi, kami bangun untuk bersiap ke Pananjakan. Rasanya malas sekali, masih ingin tidur di kamar. Apalagi udara di luar dingin sekali. Akhirnya perjalanan pun dimulai, aku bersama dua orang temanku dan rombongan yang lain naik ke dalam mobil menuju Pananjakan. Perjalanan menaiki gunung, dengan jalan yang jelek dan berkelok-kelok. Ketika sampai puncak Pananjakan, udara makin dingin, langit pun masih gelap. Orang-orang sudah ramai untuk menunggu matahari terbit di sana. Namun ketika sedikit demi sedikit sinar matahari muncul, kabut masih tebal dan gerimis pun turun. Banyak orang yang kecewa dan akhirnya meninggalkan Pananjakan. Tapi aku dan teman-temanku tetap bertahan di sana menunggu kabut hilang dan bisa menyaksikan pemandangan gunung Bromo dan gunung Batok dari puncak Pananjakan. Alhamdulillah penantian kami terwujud, kabut pun hilang. Akhirnya kami bisa melihat pemandangan itu dan mengambil gambar kedua gunung itu dari berbagai sudut. Setelah puas di pananjakan, kami lanjutkan perjalanan ke padang pasir dan mendaki gunung Bromo.
Pendakian ke Bromo memakan waktu yang cukup lama, karena kami benar-benar berjalan kaki, tidak naik kuda seperti turis lainnya. Tapi semua terbayar ketika sudah mencapai puncak Bromo. Rasanya tidak percaya sudah berjalan sejauh itu. Pura yang di padang pasir saja terlihat kecil sekali... Setelah puas berada di sana, kami turun menuju mobil jeep karena udara makin panas dan matahari makin terik padahal waktu masih menunjukkan pukul 7 pagi. Kemudian dilanjutkan perjalanan kembali menuju penginapan. Di dalam perjalanan, ternyata pemandangan sangat indah. Karena waktu berangkat langit masih gelap sehingga tidak terlihat apa saja yang dilewati.
Sesampainya di penginapan, kami sarapan pagi masih dengan pemandangan kedua gunung itu. Kemudian bersiap-siap untuk kembali dan menggunakan elf reot itu sampai terminal Purbolinggo untuk melanjutkan perjalanan ke Surabaya dan Bali.
Ketika waktu menunjukkan pukul 04.00 pagi, kami bangun untuk bersiap ke Pananjakan. Rasanya malas sekali, masih ingin tidur di kamar. Apalagi udara di luar dingin sekali. Akhirnya perjalanan pun dimulai, aku bersama dua orang temanku dan rombongan yang lain naik ke dalam mobil menuju Pananjakan. Perjalanan menaiki gunung, dengan jalan yang jelek dan berkelok-kelok. Ketika sampai puncak Pananjakan, udara makin dingin, langit pun masih gelap. Orang-orang sudah ramai untuk menunggu matahari terbit di sana. Namun ketika sedikit demi sedikit sinar matahari muncul, kabut masih tebal dan gerimis pun turun. Banyak orang yang kecewa dan akhirnya meninggalkan Pananjakan. Tapi aku dan teman-temanku tetap bertahan di sana menunggu kabut hilang dan bisa menyaksikan pemandangan gunung Bromo dan gunung Batok dari puncak Pananjakan. Alhamdulillah penantian kami terwujud, kabut pun hilang. Akhirnya kami bisa melihat pemandangan itu dan mengambil gambar kedua gunung itu dari berbagai sudut. Setelah puas di pananjakan, kami lanjutkan perjalanan ke padang pasir dan mendaki gunung Bromo.
Pendakian ke Bromo memakan waktu yang cukup lama, karena kami benar-benar berjalan kaki, tidak naik kuda seperti turis lainnya. Tapi semua terbayar ketika sudah mencapai puncak Bromo. Rasanya tidak percaya sudah berjalan sejauh itu. Pura yang di padang pasir saja terlihat kecil sekali... Setelah puas berada di sana, kami turun menuju mobil jeep karena udara makin panas dan matahari makin terik padahal waktu masih menunjukkan pukul 7 pagi. Kemudian dilanjutkan perjalanan kembali menuju penginapan. Di dalam perjalanan, ternyata pemandangan sangat indah. Karena waktu berangkat langit masih gelap sehingga tidak terlihat apa saja yang dilewati.
Sesampainya di penginapan, kami sarapan pagi masih dengan pemandangan kedua gunung itu. Kemudian bersiap-siap untuk kembali dan menggunakan elf reot itu sampai terminal Purbolinggo untuk melanjutkan perjalanan ke Surabaya dan Bali.


