Islamic Widget

Daisypath Anniversary tickers

4 Oktober 2017

Cuti bulan September lalu, saya, anak-anak dan kedua mertua saya pergi ke Batam. Liburan ke Batam kali ini dalam rangka mengunjungi suami saya yang sekarang bekerja di Batam. Memang sih hampir tiap minggu suami pulang ke Jakarta. Namun kali ini bergantian kami yang mengunjunginya di sana.



Kami di sana menginap di Queen Victoria Apartemen yang letaknya di daerah Baloi. Apartemennya enak, semuanya lengkap namun letaknya agak jauh dari keramaian sehingga agak sulit juga jika ingin membeli sesuatu. Tapi tidak terlalu masalah sih karena suami juga ada kendaraan jadi kalau kepepet perlu sesuatu bisa keluar. Selain itu juga taxi online sudah masuk ke Batam, jadi kami bisa berkendara kemana saja dengan harga murah.
Di hari pertama kami jalan-jalan di Batam, kami menuju Nongsa. Tapi pantai yang dibuka untuk umum di sana kurang bagus, entah kalau pantai yang berada di dalam resort karena kami tidak bisa masuk ke dalamnya. Kemudian kami makan siang di daerah Tanjung Piayu. Perjalanan ke sana cukup jauh namun karena di jalan juga tidak terlalu banyak kendaraan sehingga kami cepat sampai ke sana. Tempatnya enak berada di atas pantai, makanan yang disajikan juga enak dan murah. Bayangkan saja, menu yang kami pesan kami bayar sebesar 450.000 rupiah. Itu pun masih kami bawa pulang karena memang porsinya besar. Lumayan buat makan malam harinya.






Hari kedua kami jalan-jalan di Batam, kami bemutari kota Batam dan mampir ke Mega Mall sambil menunggu suami dan bapak mertua saya sholat Jumat. Setelah itu kami makan di Martabak Har di daerah Nagoya dan mampir ke Masjid Agung Batam di daerah Batam Center untuk sholat Dzuhur sekaligus menunggu azan ashar. Disana kami transit lumayan lama, sambil ngadem dan melihat Askar dan Izan berlarian bebas di area luar masjid.








Ketika hari sudah sore kami melanjutkan perjalanan ke Jembatan Barelang. Jembatan yang menghubungkan pulau Batam, pulau Rempang dan pulau Galang. Disana apalagi yang bisa dilakukan selain foto-foto di atas jembatan di antara pulau Batam dan pulau Rempang. Berjalan-jalan di Batam ini, saya merasa flashback masa lalu saya bersama teman-teman. Namun teman-teman yang dulu berada di Batam sudah tidak tinggal di sana lagi.






Hari ketiga di Batam, saya dan suami memutuskan untuk menyebrang ke pulau Bintan. Jujur saja daripada menyebrang ke Singapura, saya lebih memilih ke Pulau Bintan tempat saya pernah tinggal. Agar suami dan anak-anak saya tahu dan pernah merasakan keberadaan saya di sana dahulu. Kami berangkat pagi dari apartemen, sampai di Pelabuhan Telaga Punggur kira-kira jam delapan lewat, jadi kami harus menunggu kapal yang berangkat jam setengah sembilan. Rasanya deg-degan mau naik kapalnya, sudah lama nggak merasakan naik kapal kecil yang dulu rutin saya naiki kalau mau ke Batam. deg-degan takut anginnya kencang. Tapi alhamdulillah sepertinya belum memasuki musim angin utara, jadi angin belum terasa kencang dan kapal berlayar dengan tenang. Sesampainya di pelabuhan bulang linggi tanjung uban, kami merental mobil yang sudah kami pesan pada malam harinya. Kemudian kami melanjutkan perjalanan ke Lagoi. Di Lagoi, tempat pertama yang kami kunjungi adalah Pelabuhan Bandar Bentan Telani. Di sana saya menjemput teman yang akan menemani tour seharian ini. Kemudian kami melanjutkan perjalanan ke Treasure Bay. Kolam renang yang besar sekali seperti lautan.




Di sana kami masuk sebentar saja, karena tidak tahan dengan teriknya panas matahari. Sebenarnya saya penasaran saja dengan tempat ini, karena waktu saya tinggal di sana tempat ini belum selesai dibangun. Pemberhentian kedua, kami masuk ke kawasan Lagoi Bay. Ya, tempat ini juga belum selesai dibangun waktu saya masih di sana. Pantainya lumayan bersih dan gratis. Banyak resort baru di dalamnya. Kami di sini juga cuma sebentar, lagi -lagi karena cuaca panas. Tempat ketiga yaitu Bintan Lagoon Resort. Saya ingin kesini karena waktu saya masih bekerja di sana, pelabuhan Internasionalnya belum beroperasi dan sekarang pelabuhannya sudah beroperasi. Di sana kami transit lumayan lama, ngadem di office imigrasinya, sholat dan makan siang di hotelnya. Waktu cepat sekali berlalu. Kami harus kembali lagi ke Tanjung Uban untuk mengejar keberangkatan kapal agar tidak kesorean. Kapan-kapan pokoknya harus menginap kalau kesini lagi. Alhamdulillah walaupun sudah sore angin belum bertiup terlalu kencang. Askar malah kegirangan waktu kapalnya bergoyang kencang dan minta naik kapal kapal lagi waktu kami sudah sampai di Batam.
Keesokan harinya, hari yang santai karena kami tidak mempunyai jadwal  khusus mau kemana. Cuma mau mapir ke rumah saudaranya suami yang ada di daerah Tiban. Dan sepulangnya dari sana kami pergi ke BTC Mall buat makan dan mencari mainan untuk Askar.


5 September 2017

Libur lebaran Idul Adha kemarin bertepatan dengan hari Jumat. Lumayan banget kan bisa dapet long weekendnya. Beberapa minggu sebelumnya suami ngotot banget kepengen nyewa villa di daerah Subang, katanya sih villanya bagus dan harganya cukup murah. Karena menurutnya pasti bosen banget kalau long weekend di rumah saja. Eh, ternyata kami malah dapet villa gratisan dong dari sepupunya suami. Yaitu Villa La Chaumiere di daerah Mega Mendung, villanya perusahaan Unilever.
Kami berangkat ke Mega Mendung pada sore hari karena sudah mendapatkan info dari televisi bahwa sistem buka tutup sedang berlangsung dan akan dibuka kembali pukul enam sore. Kami berangkat dari rumah pukul empat sore, dan tepat sekali ketika akan keluar pintu tol sudah dibuka untuk jalur ke atas menuju Puncak. Tapi tetap saja ya harus bermacet-macetan selama dua jam dari keluar tol sampai menuju penginapan karena adanya penyempitan jalan. Sesampainya di villa, jam sudah menunjukkan jam delapan malam. Untungnya bapak penjaga villa masih setia menunggu kami datang, padahal waktu dikonfirmasi lewat telpon katanya kalau sudah malam nanti masih ada security yang stand by kalau dia sudah pulang.



Villa La Chaumiere ini terdiri 3 kamar utama,1 kamar kecil dan 2 kamar mandi. Terdapat ruang televisi yang cukup lega untuk bersantai dan tiduran di sana. Ada juga ruang makan dilengkapi segala peralatan makan dan microwave,  dapur lengkap dengan peralatan masaknya. Untuk outdoor sendiri ada fasilitas private pool, lapangan basket dan lapangan badminton. Walaupun terlihat kalau villa sudah lama, namun masih terawat perabotan dan kebersihannya. Menurut kami yang kurang mungkin hanya wifi saja karena kami tidak tahu password wifinya. Aktifitas selama di sana kami menikmati private poolnya, bermain badminton dan bola basket.







Kemudian agak siangan kira-kira jam 10an kami menuju The Ranch Puncak, letaknya tidak terlalu jauh dari villa tempat kami menginap mungkin hanya sekitar 4 km. Konsep The 
Ranch Cisarua Puncak ini merupakan gabungan konsep The Ranch Bandung dan Farm House Bandung. Jadi kalau kamu ke sana, kamu seperti merasakan ada di dua tempat itu. Ada tempat berkuda, tempat memberi makan hewan kelinci, sapi dan banyak spot cantik untuk berfoto. Namun pembangunannya sepertinya masih belum selesai. Masih banyak area yang sedang dalam pembangunan. Untuk masuknya, cukup membayar Rp. 20.000 per orang dan tiketnya bisa ditukar untuk mendapatkan segelas susu di dalamnya.









 

Kami pulang hari minggu siang kira-kira jam 11. Setelah keluar villa kami makan siang di Cimory Resto Mountain View. Tahun lalu sudah pernah merasakan Cimory yang Riverside. Ternyata di Cimory Mountain View ini lebih sepi, tapi kualitas makanan dan pelayanannya sangat kurang memuaskan. Berbeda sekali dengan Cimory Riverside. Padahal waktu ke Cimory Riverside keadaan resto sangat penuh sampai-sampai harus mengisi daftar waiting list untuk bisa mendapatkan tempat duduk. Tapi pelayan di sana lebih sigap dan makanannya cukup enak. Sangat-sangat berbanding terbalik dengan Cimory Mountain View. Keadaan resto yang sepi saja pelayanan sangat lamaaaa sekali. Begitulah cerita liburan singkat kami kemarin. Karena kami keluar dari villa dari siang hari, alhamdulillah kami tidak bertemu macet selama di perjalanan sampai ke rumah.
 
 

30 Juni 2017

Idul Fitri 1438 H

Alhamdulillah lebaran tahun ini masih diberi kesempatan untuk berlebaran di kampung halaman di Lampung. Setelah tahun kemarin skip nggak bisa pulang kampung karena melahirkan. akhirnya tahun ini bisa berlebaran lagi di Lampung dengan membawa anggota keluarga baru. Seperti pada lebaran biasanya, saya dan keluarga shalat Idul Fitri di halaman SMAN 9 Bandar Lampung. Cuaca cukup cerah, tapi saya hanya duduk sambil memangku Izan tidak bisa ikut sholat. Kalau ikut sholat, Izan yang sudah jago merangkak pasti sudah merangkak kemana-mana. 
Sepulang sholat, seperti biasa tamu yang berdatangan ke rumah cukup banyak. Saya dan keluarga kumpul dengan keluarga bapak di rumah mbah pada lebaran kedua. Di rumah pun rombongan keluarga ibu dan bapak datang silih berganti tiap hari. Capek sih karen harus menyiapkan makanan dan mencuci piring terus. Tapi rasanya senang sekali. Karena memang nggak seperti biasanya ramai seperti ini yang datang. Kami baru bisa jalan-jalan keluar rumah pada hari ke-empat lebaran. Itu pun hanya mencari oleh-oleh durian dan datang ke tempat wisata baru yang sedang kekinian yaitu Puncak Mas Lampung. Lumayan bagus tempat wisatanya. Cukup kreatif dan menjadi alternatif tempat wisata di Lampung. 






Selamat Hari Raya Idul Fitri. Minal Aidin Wal Faidzin. Mohon maaf lahir dan batin. Semoga kita dipertemukan dengan Ramdhan tahun depan. Aminn..



3 Mei 2017


Long weekend kemarin kami sekeluarga besar jalan-jalan ke Bandung. selain jalan-jalan, tujuan utamanya adalah mengantar aunty nya askar izan ke Daarut Tauhid untuk mengikuti pesantren selama 3 bulan. Di hari pertama, sesampainya di Bandung kami langsung menuju alun-alun Bandung. Parkiran di bawah alun-alun sudah penuh, tapi alhamdulillah setelah kami memutar yang kedua kali parkiran sudah dibuka. Sesampainya di alun-alun,  ramai sekali orang di sana sampai-sampai rumput di situ hampir tak terlihat karena dipenuhi orang. Dan yang bikin pusing banyak sekali pedagang mainan anak-anak. Sudah pasti semua ditunjuk ama Askar. Tidak lama dari itu,  hujan turun sangat deras. untungnya kami sudah berada di pelataran masjid untuk sholat zuhur. Hujan turun lumayan lama, sampai ashar kami masih di sana. Setelah kami sholat ashar hujan berhenti kemudian kami langsung menuju bandara untuk menjemput auntynya askar izan.

Dari bandara kami menuju ke tempat penginapan kami hari pertama yaitu Rumah Stroberi. Kami sampai di sana pas saat azan maghrib.  kami memesan 4 kamar dan mendapat 3 kamar Jepang dan 1 kamar Morocco. Walaupun kami pesan per kamar bukan bentuk villa, ternyata tempatnya cukup enak untuk kumpul bersama di terasnya. Kami pun makan malam bersama di teras kamar.

Keesokan paginya, kami jalan-jalan pagi di area Rumah Stroberi, menikmati udara dingin, berfoto ria, makan pagi di restonya sampai jalan-jalan memetik langsung stroberi di kebun stroberi. Selain itu, di sana juga ada arena permaina flying fox, kolam renang kecil dan ada sepeda-sepeda mini untuk anak-anak. Tempat ini memang sangat cocok untuk family leisure. Karena sudah memiliki fasilitas yang cukup untuk menghabiskan liburan di hotel saja.













Review untuk hotel ini, saya rasa sudah cukup baik, Hal-hal yang kurang mungkin letak kamar kami yang  kebetulan bersebelahan dengan jalan raya. Jadi kalau ada motor yang melaju kencang, Izan jadi terbangun kalo lagi tidur. Kemudian sarapan yang kurang variasi. Menurut saya wajar sih karena tambahan biaya klo ada tambahan orang untuk sarapan juga murah nggak sampai 40.000 per orangnya.
 
Setelah cek out dari Rumah Stroberi, kami menuju Restauran Kampung Daun. Sebenarnya saya bosan kesini. Tapi tempatnya cozy dan makanannya enak. Jadi daripada ke tempat lain yang makananya belum tentu enak mending kami putuskan makan di sini. letaknya juga dekat dengsn Rumah Stroberi. Kami berada di sana lumayan lama, maklum lah kalau membawa anak kecil lebih banyak menghabiskan waktu di satu tempat dibanding jalan-jalannya.
Sekitar jam 3an kami baru beranjak dari Kampung Daun menuju Farm House. Tiket masuk kesana sebesar 20.000 per orang. Di sana cuma berkeliling-keliling sebentar, foto-foto, nungguin bocah-bocah memberi makan domba dan kelinci. Setelah itu kami pulang menuju hotel yang kedua yaitu Summer Hill villa yang letaknya tidak jauh dari Daarut Tauhid yaitu sekitar 3 km. Tempat menginap kali ini model villa 3 kamar. Tempatnya lumayan enak untuk keluarga besar namun jalan menuju kessna agak susah untuk menemukan villanya karena bersada di gang yang jakannya jelek. Sempet nyasar-nyasar juga karena petunjuknya tidak terlihat.

31 Maret 2017


Bulan Maret ini saya menyempatkan diri untuk jalan-jalan ke Banda Aceh. Kenapa Aceh? Karena rencananya bulan depan Dona akan pindah ke Samarinda karena suaminya sudah mendapatkan SK pindah. Yah mumpung Dona masih di sana saya pengen menyempatkan diri dulu buat tau Aceh. Saya berangkat kesana bersama anak-anak dan ibu mertua. Kebetulan juga ibu dan icha juga masih di Aceh karena Dona baru melahirkan. Saya berada di sana kurang lebih 5 hari 4 malam. Perjalanan naik pesawat dari Jakarta ke Banda Aceh memakan waktu kurang lebih 3 jam. Untungnya bocah-bocah anteng di perjalanan. Askar sudah bisa diem dan anteng nonton video. Izan juga lumayan lama tidur di perjalanan.

Selama di sana kami jalan hanya di sekitaran kota Banda Aceh saja. Maklum kalau membawa anak kecil susah sekali  untuk memulai perjalanan keluar rumah. Perjalanan paling jauh hanya sampai pantai Lampu'u. Hari-hari pertama kami datang ke Museum Tsunami Aceh yang jaraknya dekat dengan rumah Dona, kira-kira hanya berjarak 300 meter dari rumah. Letak rumah Dona memang berada di depan Lapangan Blang Bintang di pusat kota Banda Aceh.






Kemudian kami mampir ke cafe Canai Mamak untuk makan roti canai dan minum teh tarik. Keesokan harinya kami berputar-putar kota Banda Aceh, antara lain ke Masjid Baiturrachman. Sayang sekali kami tidak sempat foto-foto di sana karena hari itu panas sekali. Sehingga kami ingin cepat-cepat masuk ke dalam masjid. Kemudian kami menyempatkan makan di mie aceh "ayah". Pengennya sih mampir ke mie aceh Rajali yang lebih terkenal tetapi kata Dona tempatnya kurang nyaman jika membawa anak kecil. Hari-hari berikutnya, kami melakukan perjalanan agak jauh ke Aceh Besar. Nama tempatnya Bang Gam Kayee Lhee. Tempat makannya berada di tengah-tengah sawah, tapi sayangnya pada saat itu sudah selesai musim panen, sehingga sawahnya kering. Selain itu kami juga ke kapal PLTD yang terseret jauh ke daratan.




Keesokan harinya pagi-pagi setelah semua selesai mandi kami langsung berjalan menuju Dhapu Kupi untuk ngopi-ngopi dan makan cemilan khas Aceh. Setelah itu kami langsung menuju Pantai Lampu'u. Udah lama sekali rasanya nggak ketemu pantai. Jadi berasa segar sekali mata memandang pantai yang masih alami dengan pasir yang putih halus.




Hari terakhir di Banda Aceh kami ke Ulee Kareng untuk membeli oleh-oleh khas Aceh. Foto-foto di bawah ini buat kenang-kenangan dulu waktu masih sekecil ini pernah bertemu di Banda Aceh, nanti kalau sudah agak besar wajahnya dan bertemu lagi pasti wajahnya sudah berubah ya..







Sampai jumpa lagi Aceh, entah kapan bisa datang lagi ke sana karena Dona dan keluarga bulan depan mungkin sudah pindah ke Samarinda. Berarti mungkin tahun depan kita nengokin Dona ke Samarinda ya, sampai menunggu Izan dan Haziq agak besar.