Bulan Juli tahun ini adalah bulan yang sangat ditunggu-tunggu. Selain karena ini pertama kalinya menjalankan ibadah puasa bersama suami, bulan ini juga merupakan bulan kelahiran buah hati kami. Waktu itu rasanya tidak sabar untuk cepat melihat wajahnya., merasakan menjadi seorang ibu. Pada hari jumat tanggal 4 juli, tiba-tiba keluar flek darah pada pagi hari. Sehingga saya langsung ke rumah sakit untuk memeriksakan diri. Setelah sampai di ugd, ternyata blm ada bukaan. Bidan di sana menyarankan saya untuk datang lagi sore hari agar memeriksakan diri ke dokter Syarifah. Sore harinya, saya datang lagi ke rumah sakit untuk konsultasi. Kata dokter, posisi bayi sudah sangat turun sekali. Kemungkinan sebelum tanggal 7 sudah bisa melahirkan. Dan kemungkinan kalau sudah mules-mules selama 6 jam atau diinduksi selama 1 jam sudah melahirkan. Wah bagus deh gak usah lama-lama lagi. Pada keesokan harinya tanggal 5 Juli sekitar jam setengah 4 sore saya merasakan ada air yang keluar terus-terusan. Kata ibu, itu adalah air ketuban yang merembes. Langsung deh saya, suami, ibu, ibu mertua dan adik bergegas ke rumah sakit. Sesampainya di IGD, saya langsung diperiksa dan ternyata sudah bukaan satu. Pada pukul 6 sore saya diantar ke ruang bersalin untuk diobservasi. Dicek detak jantung bayi, dan diinduksi. Karena pada saat itu saya tidak merasakan mules sama sekali. Proses induksi dimulai sebelum maghrib. Sampai pukul 9 malam, ketika diperiksa lagi oleh bidan termyata bukaannya tidak bertambah. Masih tetap bukaan 1. Sedangkan rasa sakit karena diinduksi sudah bertambah-tambah dan air ketuban keluar terus menerus. Pada saat jam 10 akhirnya saya dan keluarga memutuskan untuk dioperasi. Duh, deg-degan rasanya ketika harus masuk ruang operasi. Sekitar pukul 23.15, bayi yang di dalam perut akhirnya keluar dan saya mendengar suara tangisannya. Setelah itu saya dibawa ke ruang rawat inap. Nggak sabar rasanya melihat wajahnya.
Ya, inilah makhluk yang sudah ditunggu-tunggu kedatangannya. Bayi dengan berat 3,6 kg dan panjang 49 cm ini dilahirkan di Jakarta, tepatnya di RSUD Cengkareng pada tanggal 5 Juli 2014 pukul 23.15 dan diberi nama Askar Ghaisan Elfatih. Hmm.. kalau dilihat-lihat mirip siapa nih kira-kira. Kalau dari bentuk wajahnya kayaknya wajah ayahnya banget nih, kotak. Tapi hidung ama bibirnya kayaknya mirip bundanya deh. hehe..
Ya, inilah makhluk yang sudah ditunggu-tunggu kedatangannya. Bayi dengan berat 3,6 kg dan panjang 49 cm ini dilahirkan di Jakarta, tepatnya di RSUD Cengkareng pada tanggal 5 Juli 2014 pukul 23.15 dan diberi nama Askar Ghaisan Elfatih. Hmm.. kalau dilihat-lihat mirip siapa nih kira-kira. Kalau dari bentuk wajahnya kayaknya wajah ayahnya banget nih, kotak. Tapi hidung ama bibirnya kayaknya mirip bundanya deh. hehe..
Pasca melahirkan, saya dan bayi masih berada di rumah sakit sampai hari ketiga. Kemudian di hari ketiga kami sudah diperbolehkan pulang. Alhamdulillah.. Hari-hari sebagai seorang ibu pun dimulai. Musti begadang tiap malam karena bayi menangis sampai-sampai mata saya bengkak, belum lagi baby blues yang menyerang. Hmm, ternyata begini ya rasanya baby blues. Rasa sedih, pengen nangis, cepet tersinggung sampai rasa kelelahan menjadi satu. Belum lagi pada minggu pertama kelahiran bayi, ASI yang keluar belum banyak padahal Askar kuat banget mimiknya. Jadi saya berpikir ASI yang keluar otomatis banyak bila bayi sering menyusu. ternyata tidak begitu, pada saat dipompa menggunakan pompa manual ASI yang keluar hanya membasahi pantat botol saja. huhu.. sedih rasanya, jadi selama ini Askar cuma seneng ngempeng aja dong..
Seminggu setelah kelahiran Askar, Askar sempat kuning pada waktu mau imunisasi di RS. Tapi alhamdulillah nggak sampai dirawat. Sehingga pada saat itu dibantu menggunakan susu formula selama seminggu. Sementara saya masih bertekad kuat untuk bisa memberikan ASI. Pada akhirnya saya putuskan untuk membeli pompa elektrik Medela swing agar saya bisa rajin memerah susu untuk stok selama ditinggal kerja nanti dan memperlancar ASI.
