Dilanjut yuukk ceritanya, mumpung lagi off jadi bisa nulis.
Selama 4 bulan ini tentu saja saya gak cuma berdiam diri di tempat ini. Pastinya pengen tau donk kota Tanjung Pinang sebagai ibukota propinsinya. Pagi-pagi saya bersama seorang teman berangkat dari Lagoi menuju Tanjung Pinang dengan mengendarai mobil menempuh perjalanan kurang lebih satu setengah jam. Melewati hutan dan jalan yang banyak sekali tikungan, tanjakan dan turunan membuat saya ingin muntah selama perjalanan.
Sesampainya di sana, kami berhenti di pelabuhan domestik Sri Bintan Pura untuk melanjutkan perjalanan ke Pulau Penyengat. Memang dari awal tujuan kami adalah Pulau Penyengat. Dari pelabuhan menuju pulau, kami naik perahu mesin dengan membayar Rp.5ooo per orang. Perjalanan laut dari Pelabuhan menuju Pulau Penyengat memakan waktu 10 menit. Sesampainya di Pulau Penyengat, kami langsung menuju Masjid Pulau Penyengat karena bertepatan dengan azan dzuhur.
![]() | |||||||||||||||||||||
| Masjid Sultan Riau Pulau Penyengat |
Setelah berjalan-jalan di pulau itu, kami kembali ke pelabuhan Sri Bintan Pura dan berkeliling kota Tanjung Pinang ditemani teman yang bertugas di kota itu.
![]() | |||||
| Pulau Penyengat dilihat dari kota Tanjung Pinang |
Kemudian pada pertengahan bulan Maret saya melakukan perjalanan ke Pulau Galang. Dari Batam menuju Pulau Galang, memakan waktu kurang lebih satu setengah jam dengan mengendarai mobil. Dalam perjalanan, jalan terlihat sepi sekali. Jarang sekali kendaraan melintas di sana. Sebelum sampai ke Pulau Galang, kita melewati Jembatan Barelang. Jembatan yang menjadi landmark Pulau Batam.
Selain itu, selama perjalanan banyak sekali perkebunan buah naga. Kami sempat turun dan foto-foto (tetep narsisnya). hehe..
Setelah satu setengah jam perjalanan, akhirnya sampai juga di Pulau Galang. Pulau itu pernah dijadikan camp pengungsian warga negara Vietnam. Yang tersisa di Pulau itu kini hanya gereja, klenteng, kuburan. Karena rumah-rumah tinggal mereka yang terbuat dari kayu sudah hancur, lapuk dimakan waktu.
![]() | |
| perahu kayu peninggalan pengungsi vietnam |
Gambar perahu di atas yaitu perahu sisa peninggalan pengungsi vietnam yang dipakai untuk mengarungi Laut Cina Selatan selama berbulan-bulan menuju berbagai belahan dunia dengan harapan dapat perlindungan dari negara lain. Di antaranya sampai ke pulau Galang. Sebagian mereka yang gagal mencapai daratan dan gugur di lautan karena perahunya tenggelam.





0 komentar:
Posting Komentar