Seperti yang saya ceritakan di postingan sebelumnya, bahwa pada tanggal 1 Januari saya akan pergi ke Tanjung Balai Karimun. Sudah lama sekali saya berniat untuk pergi ke sana, dan memang kondisinya tepat sekali, karena teman saya yang suku Batak merayakan tahun barunya mudik ke rumah orang tuanya di Tanjung Balai Karimun. Jadi saya menyempatkan diri untuk berkunjung ke sana sendirian.
Saya berangkat dari pelabuhan Tanjung Uban menuju Pelabuhan Telaga Punggur, dan melanjutkan perjalanan menggunakan taxi menuju pelabuhan domestik Sekupang untuk kembali menyebrangi lautan menuju Pelabuhan Tanjung Balai Karimun (jadi ceritanya dua kali nyebrang laut). Di pelabuhan Sekupang, saya membeli tiket kapal Miko Natalia seharga Rp. 70.000 untuk sekali jalan yang berangkat pukul 13.15 di konter ticketing. Sama seperti di Pelabuhan Punggur, ramai sekali orang yang menawarkan tiket sambil berteriak-teriak (Indonesia banget). Kapal Miko Natalia yang akan saya tumpangi bermuatan banyak, mungkin bisa sampai 300 orang. dan pada saat itu kapal memang benar-benar full muatannya, bahkan ada yang berdiri untuk menempuh perjalanan.
Perjalanan ditempuh selama kira-kira satu jam lima belas menit menyebrangi lautan. Ombak dirasakan agak kencang pada saat itu. Maklum, musim angin utara. Setelah tiba di Pelabuhan Tanjung Balai Karimun, saya dijemput teman-teman saya yang rumahnya akan saya singgahi.
Setelah tiba di rumah mereka, seperti halnya suasana lebaran, banyak sekali makanan, kue-kue dan orang yang berkunjung ke rumah teman saya. Karena biasanya orang Batak merayakan Natal dan tahun baru pada saat tahun barunya. Pada sore hari kami berjalan-jalan mengelilingi kota Tanjung Balai Karimun. Kotanya mirip seperti kota Tanjung Pinang, namun jalan-jalan di kota ini tidak terlalu lebar. Bahkan ada tempat yang namanya Pantai Glori yang mirip sekali dengan Taman Fisabillah Kota Tanjung Pinang. Kata teman saya sih, tempat itu baru dibuat, mungkin baru sekitar 2 tahunan pembangunannya, di situ banyak arena permainan untuk anak-anak, pedagang di pinggir pantai dan panggung rakyat yang digunakan untuk pagelaran-pagelaran. kami pun menikmati senja di tempat itu.
Keesokan paginya, saya kembali diajak keliling-keliling Tanjung Balai Karimun dan lebih masuk ke pedalamannya, ke Pantai Pongkar dan air terjun. Namun air terjunnya sudah tidak begitu deras. Kemudian pada siang harinya, pukul dua belas siang saya bersiap-siap untuk pulang. Kembali menyebrangi dua lautan untuk sampai ke Tanjung Uban. Dan gak lupa mengucapkan terima kasih untuk Sianipar family ^^



0 komentar:
Posting Komentar