Cerita ini sebenarnya berasal dari pengalaman teman dekat saya. Dia pernah bilang "kenapa sih gak ada istilah ganti suku. Padahal agama saja orang bisa ganti, kewarganegaraan juga. Orang juga bisa ganti nama secara resmi. Kenapa suku gak bisa." Masalah suku ini juga sering dikaitkan bila orang akan menjalin hubungan yang serius dengan pasangannya. Padahal dalam kehidupan sehari-hari rasanya kesukuan tuh sudah hampir gak terlihat, bahkan hampir pudar. Tapi kenapa jika akan menjurus kepada penyatuan dua keluarga, kesukuan itu akan kembali dikait-kaitkan. Bahkan mungkin akan mempengaruhi kelanjutan hubungan pasangan itu sendiri. Sebenernya kalau dipikir, apakah mungkin kita dapat mengambil kesimpulan sifat dari suatu suku, dari jumlahnya yang sekian juta orang itu. Gak mungkin kan dari sekian banyak itu mereka memiliki sifat yang sama. Tapi kenapa orang sering bilang. "Jangan lah kalo sama suku itu, suku itu sifatnya bla bla bla.." Dan akhirnya dibilang "cari aja yang sukunya ini, sifatnya bla bla bla.." Lagi-lagi menjadi pertanyaan apakah sekian juta orang itu memiliki sifat baik yang sama. Sebenarnya dilihat dari sisi apa ya penilaian semacam itu. Yang akibatnya membuat orang berpikir sempit. Saya juga berharap agar saya gak berpikir sempit. Karena terkadang pengaruh orang-orang dekat membuat saya ikut berpikir seperti itu.
1 komentar:
yah, setuju mba dewi
Posting Komentar