Islamic Widget

Daisypath Anniversary tickers
Tampilkan postingan dengan label Review. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Review. Tampilkan semua postingan

23 Januari 2018

Team Wawacanda on Vacation

Rencana dari awal tahun akhirnya terwujud. Grup kami yang sering kami sebut team wawacanda akhirnya berangkat ke Hongkong pada long weekend awal bulan Desember kemarin. Sebelum berangkat, banyak sekali dari kami yang tarik ulur jadi atau nggak untuk berangkat. Saya sendiri sebelumnya masih mikir-mikir, karena di saat yang sama saya akan memberangkatkan orang tua untuk umroh ke tanah suci.  Tapi akhirnya saya putuskan untuk ikut saja. Saya pikir kapan lagi bisa berangkat bareng-bareng. Sudah kebayang deh capeknya nanti di sana karena harus membawa Izan ikut serta. Kenapa Izan harus dibawa? Karena dia masih nenen. Kebayang kalo malam hari dia ditinggal sama ayahnya di rumah, pasti bakal nangis nggak berhenti karena mau nenen. Yasudahlah nikmati saja perjalanan bersama Izan kali ini. Selain saya ada lima orang teman lainnya yang juga membawa anak. Jadi total dari kami ada enam belas orang.


Sebelum Boarding @ Terminal 3 Ultimate Soekarno Hatta


Kami terbang dari Jakarta menuju Hongkong menggunakan pesawat China Airlines pada pukul setengah tujuh pagi. Selama di perjalanan, Izan hanya tidur setengah jam pertama saja. Sisanya dia jalan-jalan di kabin pesawat bercanda dengan anak-anak teman saya yang lain. Bener-bener olahraga deh di pesawat jagain dia. Perjalanan kami kurang lebih 5 jam. Pada saat landing, kami berada agak lama saat akan menuju antrean imigrasi. Karena Aqila anak kak Ike terdeteksi oleh petugas kesehatan pelabuhan suhu badannya tinggi, mencapai 39 derajat celcius. Sambil menunggu, kami berfoto-foto di situ. Tema dekorasi di airport kali itu adalah natal dan tahun baru.







Setelah Aqila diperbolehkan meninggalkan karantina kesehatan, kami langsung menuju antrian imigrasi. Alhamdulillah bagi yang membawa anak kecil ada antriannya sendiri. Jadi kami yang membawa anak cepat keluar dari Imigrasi. Setelah berada di luar, kami langsung membeli octopus card yang fungsinya sebagai alat pembayaran kendaraan umum selama di Hongkong. Setelah itu kami berjalan menuju terminal bus bandara dan menunggu bus A22 yang menuju ke penginapan kami Bridal Tea House To Kwa Wan di daerah Kowloon. Saat Busnya datang kami langsung naik dan duduk di lantai atas bus. Excited sekali rasanya saat perjalanan dengan bus ini. Maklum, udah lama banget nggak keluar negeri. Kalau dulu sebelum nikah sih sering banget, sebulan sampai dua kali tugas dinas keluar negeri. Kalau sekarang, duh pulang kesorean saja sudah galau mikirin anak-anak. Perjalanan dari Airport sampai ke hotel kami memakan waktu kira-kira satu jam. Kami berhenti di pemberhentian ke sepuluh yaitu di Argyle Street Playground bus stop. Dari situ kemudian kami berjalan kira-kira 300 meter menuju hotel.


Sesampainya di hotel kami check in memakan waktu yang agak lama. Pada saat sudah diperbolehkan masuk ke kamar, kami masuk kamar menurut pembagian yang sudah ditetapkan waktu di Jakarta. Saya sekamar dengan Kak Ester dan Riris. Sesampainya di kamar, rasanya kaget sekali ternyata family roomnya sekecil itu. Dari awal kami pun sudah tahu dari internet kalau kamarnya berukuran 9 meter persegi,  tapi tetap saja kaget sampai rasanya pengen ketawa terus. Harga kamar per malam kira-kira dua jutaan ternyata bentuknya seperti itu. Memang sih, kalau lihat di aplikasi agoda, penginapan di Hongkong itu nggak ada yang murah. Agak bagusan sedikit saja harganya bisa empat jutaan per malam. Hongkong oh Hongkong.
Pada malam harinya, teman-teman yang lain melanjutkan acara jalan-jalan melihat Symphony of Light dan jalan ke Ladies Market. Tapi saya tidak ikut. dan hanya saya sendiri yang tidak ikut karena rasanya capekkkk sekali setelah perjalanan sambil olahraga di pesawat tadi. Saat jam sudah menunjukkan pukul 12 malam, teman-teman sekamar saya masih belum ada di kamar. Penasaran sekali rasanya mereka ada dimana. Sampai pukul 1 dini hari baru deh Kak Ester dan Riris Muncul di kamar dan bercerita betawa riwehnya perjalanan mereka malam itu. Untung saja saya tidak ikut ya.

Setelah pagi tiba, kami bersiap-siap untuk perjalanan kami ke Disneyland. Untungnya di dekat hotel ada seven eleven, jadi kami bisa membeli makanan dan keperluan lainnya di situ. Kami baru berangkat dari hotel ke Disneyland pukul 10 pagi. Perjalanan kurang lebih satu jam. Sesampainya di gerbang Hongkong Disneyland kami berfoto lengkap. Setelah itu kami  tersebar entah kemana-mana. Saya sendiri cuma berjalan sambil membawa Izan dengan stroller muter-muter di dalamnya sambil menyuapi Izan makan. Tak ada satupun wahana atau pertunjukan yang saya masuki. Karena pasti Izan bakalan rewel kalau saya ajak untuk mengantri. Jujur saja saya nggak menikmati perjalanan ke Disneyland ini karena Izan juga masih belum mengerti. Paling pada saat parade tokoh kartun saja saya menonton, dan Izan juga joget-joget di stroller mendengar suara musiknya






Foto-foto Izan semuanya dia ada di atas stroller. Karena kalau saya turunkan dia dari stroller bisa-bisa dia lari entah kemana. Saya keluar dari Disneyland kira-kira pukul 6 sore, namun ada juga rombongan yang keluar pada pukul 5 sore. Yang keluar lebih awal, mereka langsung pulang ke hotel. Sedangkan saya ikut rombongan yang keluar pukul 6 sore karena akan melanjutkan perjalanan ke Ladies Market. Kemarin kan saya belum ikut, jadi penasaran rasanya kalau saya belum ke sana. Perjalanan kali ini kami memakai MTR dari Disneyland. Tidak memakai bus seperti waktu berangkat.
Sesampainya di Ladies Market saya hanya berkeliling sebentar. Kemudian saya meminta izin untuk pulang duluan ke hotel, karena teman-teman yang lain masih ingin membeli barang yang mereka inginkan di sana. Saat meminta izin pulang duluan, mereka sempat khawatir karena saya akan berjalan kaki ke hotel. Tapi saya bisa meyakinkan kalau semua akan baik-baik saja, karena jika saya pulang memakai taxi saya akan repot membawa Izan dan membuka tutup stroller. Belum lagi kalau Izan ketiduran di taxi. Perjalanan dari Ladies Market ke Hotel memakan waktu 30 menit dengan berjalan kaki. Dengan panduan google map akhirnya saya sampai juga ke hotel dengan berjalan kaki sejauh 2,5 km. Lumayan capek sih karena saya berjalan lumayan cepat. Selama perjalanan tadi alhamdulillah Izan anteng aja. Sambil memegang mainan robot-robotan, sepertinya dia juga menikmati perjalanannya. Walaupun sebetulnya saya agak khawatir juga di jalan. Khawati kalau ada orang jahat atau ada anjing liar. Apalagi saat melewati jalan yang agak remang. Tapi pejalan kaki juga banyak kok sejauh mata memandang. Sesampainya di hotel langsung deh boboin Izan dulu agar saya bisa mandi dan packing buat besok. Mumpung Kak Ester dan Riris belum pulang. Karena kalau mereka sudah pulang, saya akan bingung dimana akan menggelar koper di kamar seminimalis itu.

Last day in Hongkong, pagi-pagi sebagian dari kami bersiap akan berangkat ke Avenue of The Star. Itu loh, tempat foto-foto yang ada patung-patung tema perfilman. Sesampai di sana, ternyata lokasi sedang dipugar, sehingga patung-patung dipindahkan ke atas. Seperti biasa, saya yang paling capek karena harus mengejar Izan yang lari kesana kemari.









Kami kembali ke Hotel kira-kira pukul sepuluh, kemudian kami bersiap buat check out. wow,, koper-koper kami semuanya menggendut. Makin susah untuk dibawa. Rasanya tim kami ini makin solid saja. Sudah tahu yang mana yang harus membawa stroller, anak, dan menggeret-geret koper. Apalagi waktu akan naik bis menuju bandara, sudah kaya mau perang dan pergerakan kami cepat sekali. Dari mengangkat koper ke dalam bis, melipat stoller, membawanya ke dalam dan menggendong anak. Seandainya saja ada yang merekam aktifitas kami. Pasti lucu sekali buat ditonton. Sampai di Bandara, kami langsung check in di priority line. Kemudian petugas menyuruh kami pindah. Sepertinya petugas tidak percaya kalau kami ini penumpang kelas bisnis. Haha, kasian.. kasian.. Mungkin wajah kami lebih cocok seperti TKW ya. Namun saat melihat tiket baru kami dipersilahkan berdiri di priority line. Setelah selesai check in, kami menukarkan octopus card kami. Lumayan deposit yang tersisa masih bisa dipakai buat membeli oleh-oleh di dalam bandara. Sebelum boarding kami makan dulu di lounge skyteam. Ada juga yang berjalan-jalan membeli oleh-oleh. 




Pesawat berangkatnya tepat waktu, namun waktu tunggu untuk take offnya lama sekali karena banyak sekali antrian pesawatnya. Bisa sampai empat puluh lima menit sendiri kami menunggu take offnya. Untuk perjalanan pulang, Izan tidur lumayan lama. Mungkin dia kelelahan di Bandara tadi. Begitulah cerita singkat liburan kami ke Hongkong. Dan  rasanya Hongkong bukan tempat yang saya ingin kunjungi lagi. Berada di Hongkong tidak jauh berbeda dengan berada di Singapura. Yang membuatnya menarik karena ada Disneyland saja. Seandainya mau ke Disneyland dengan anak-anak mending langsung ke Jepang aja deh, biar bisa sekaligus wisata budaya. Terima kasih kepada pihak yang telah mensponsori tiket perjalanan kami. Lain waktu boleh lah disponsori lagi. hihi...




30 Mei 2016

Akhir bulan Mei kemarin, saya dan keluarga pergi ke kawasan Cisarua Bogor. Tempat pertama yang kami kunjungi adalah Taman Safari. Setelah bermacet-macetan di jalan, akhirnya tengah hari kami sampai juga di sana. Di sana tidak terlalu banyak mengambil foto kami rasanya sudah lelah berlama-lama di jalan. Lucu saja melihat ekspresi Askar melihat-lihat hewan dan memberi makan hewan dari dalam mobil. Setelah itu kami melanjutkan menonton pertunjukan singa laut.


Sepulangnya dari Taman Safari kami langsung menuju penginapan. Kami sudah memesan penginapan lewat agoda yaitu Alfa Resort yang letaknya kurang lebih 3 km dari jalan utama masuk Taman Safari. Harga penginapan ini cukup murah, kurang lebih satu jutaan saja. Terdiri dari 3 kamar, living room, 2 kamar mandi dan dapur. Kami menambah extra bed 1 buah dengan membayar biaya tambahan 150 ribu rupiah (sudah termasuk tambahan voucher makan pagi). Banyak jenis villa yang ada di resort ini. Ada yang 3 kamar, 4 kamar maupun yang villa kamar. Fasilitas yang ada di sini pun cukup lengkap, ada indoor playground dan outdoor playground buat anak-anak, ada kolam renang walaupun nggak ada yang berani berenang karena airnya sangat dingin, ada juga kuda bagi yang ingin berkuda mengelilingi resort. Menu makan pagi di restaurannya pun sangat banyak dan enak-enak. Walaupun belum termasuk kategori resort mewah, saya rasa resort ini cukup memuaskan dari segi harga dan kualitasnya. 






Kami menginap di sini hanya satu malam. Keesokan harinya kami pulang ke Jakarta. Di perjalanan kami menyempatkan untuk membeli oleh-oleh dan makan di Cimory Riverside. Karena sedang akhir pekan, dan minggu depan sudah masuk bulan Ramadhan, situasi di Cimory ramaaiii sekali. Dari tempat parkiran yang sangat luas itu saja sudah penuh sesak. Belum lagi waktu mau mencari tempat duduk, harus waiting list dalam waktu yang lumayan lama. Tapi terbayarkan dengan makanan yang cukup enak dan pemandangan yang indah. 


Begitulah perjalanan keluarga kami sebelum memasuki bulan Ramadhan, dan buat saya sebelum melahirkan. Karena usia kandungan saya sudah memasuki 8 bulan. Perkiraan mungkin akan melahirkan pada akhir bulan Ramadhan.


14 Juni 2012

Buku Partikel

Selalu dibuat takjub ketika membaca buku-buku karya Dewi Lestari. Seperti buku yang terakhir ini dikeluarkannya yang berjudul Partikel. Kita dibawa masuk ke dalam cerita dan masuk banyak tempat. Entah apa yang dipikirkan ya oleh Dee ketika dia menulis buku ini. Banyak hal yang begitu detail dan sangat ilmiah untuk dimasukan ke dalam sebuah cerita. Kolaborasi dari ilmu pengetahuan, keyakinan, spirit, dunia metafisika, fotografi. Sampai-sampai saya menyempatkan diri untuk googling setelah selesai membacanya. Mencari-cari informasi tentang kebenaran istilah-istilah yang ada di buku ini. Tentang fungi-fungian, tentang enteogen, teori evolusi, konservasi orang utan dan banyak istilah lain yang dimasukkan. Padahal di buku itu sudah diceritakan, namun saya sendiri jadi penasaran dan ingin tahu lebih dalam tentang istilah-istilah itu.

Terkadang dalam kehidupan ini banyak orang memiliki cara pandang yang berbeda untuk suatu pencarian, bahkan bisa dibilang ekstrem cara pemikirannya sampai-sampai banyak yang akhirnya menyebut orang itu gila. Dan seperti di dalam buku ini, menjadi gila seperti anggapan orang karena memiliki pemikiran berbeda, meneliti suatu hal yang banyak orang tidak peduli akan hal tersebut dan pencarian yang terus menerus. Pokoknya membaca buku ini, kita diajak ikutan gila deh sama Dewi Lestari. Menjelajah hutan dengan pemikiran-pemikiran yang gak pernah kita bayangkan sebelumnya. Melakukan pencarian yang tidak kunjung usai. Mengulas tentang kehidupan di dimensi lain dan bagaimana cara mencapai dimensi itu. Dan sesungguhnya, perbedaan itu menciptakan harmoni tersendiri bagi kehidupan.



24 Mei 2012

Tentang TraveLove

Baru selesai membaca buku yang berjudul TraveLove. Buku yang merupakan kumpulan kisah tentang perjalanan dan cinta. Buku ini ditulis oleh 9 orang travel writer. Bermacam-macam kisah dan pengalaman yang diceritakan dan hampir semuanya kisah yang mengharukan. Malah sempet sedih waktu baca tulisan Trinity yang berjudul Perjalanan ke Surga. Gak menyangka ternyata seorang Trinity bisa juga membuat tulisan yang bikin nangis dan mengharukan seperti itu.


Dan kisah-kisah penulis lainnya seperti Winter Serenade yang bercerita tentang perjalanannya menempuh ribuan mil demi bertemu istri tercintanya. Semuanya memang karena the power of love. Ada lagi pada tulisan pertama, yang berjudul Bertemu itu kesempatan, bersama itu pilihan. Judul tulisan itu sempat saya buat sebagai status BBM saya dan suddenly banyak chat yang masuk. Status yang ambigu memang, tapi kenyataannya memang begitu, bertemu itu belum tentu harus bersama. Tetapi selagi bisa, gunakan kesempatan itu sebaik mungkin. #kode. Yang dikodein gak bakalan baca juga. hahaa. ada lagi tulisan-tulisan yang menceritakan pertemuan dengan orang baru di tempat baru dengan keadaan yang tidak disangka-sangka. Mungkin memang banyak ya kisah seperti itu. Ada yang akhirnya abadi, ada pula yang hanya sekedar numpang lewat. Pokoknya buku ini seru deh buat dibaca, kadang dibikin iri ama kisah-kisah yang tak terduga dan effort orang-orang di dalamnya demi cintanya.. 

29 September 2011

500 Days of Summer


Lagi pengen review film 500 Days of Summer nih, salah satu film yang saya suka. Banyak cerita-cerita seperti novel yang mengutip sedikit dari cerita tentang cinta di film ini. Seperti pada kutipan pada awal film "This is not a love story. This is a story about love". Mungkin hampir semua orang memang pernah mengalaminya. 

Pertama kali nonton film ini pada tahun 2009, karena seorang "calon pacar"nya teman saya yang sekarang sudah jadi suaminya, waktu itu lagi pedekate ke teman saya bilang kalo dia gak mau seperti Tom Hansen di film ini. Jadi penasaran. Emang ada apa dengan Tom Hansen.  Jadilah waktu itu saya menonton film ini. Sebenernya cerita film ini sangat sederhana. Cuma mengisahkan pertemuan dua orang beda jenis kemudian harus mengalami jatuh cinta dan patah hati. Film ini bisa dibilang 'sepi', bisa bikin ngantuk apalagi dengan alur cerita yang maju mundur sehingga kita sendiri harus konsen buat menyimaknya.

Film ini mengisahkan seorang pemuda bernama Tom Hansen yang kemudian bertemu seorang wanita yang bernama Summer Finn. Menjalani hari-hari bersama dalam waktu yang cukup lama, 500 hari. yah, satu setengah tahun lah kira-kira. Seperti layaknya orang yang sudah berpacaran. Namun pada kenyataannya ternyata cinta Tom hanya bertepuk sebelah tangan. Summer dengan sukses membuat patah hati seorang Tom.
Waktu pertama kali menontonnya, tiba-tiba teman saya yang lain bilang "kok, kayanya gw tau ya ini cerita siapa". Dengan santai dan berharap bukan nama saya yang disebut, saya bertanya kepadanya "Siapa emangnya?". Dan teman saya bilang "lo gak ngerasa apa??" Saya sendiri cuma bisa ketawa aja.
yah, emang waktu itu saya sedang menjalani hubungan yang seperti itu dan dengan posisi yang sama dengan Summer Finn. Tapi kan waktu itu memang baru kenal seseorang, bukan 500 hari seperti yang dijalani Tom dan Summer. Lagian saya gak setega Summer kok. Walaupun pada akhirnya kisah saya juga nggak seperti Summer. Entah kenapa saya sering sekali menjalani hubungan yang seperti ini. Langganan, hufftt.. Kalau dipikir-pikir, seorang wanita seperti Summer aja bisa berbuat seperti itu bagaimana dengan laki-laki ya?? Selama film ini diputar, rasanya gemes banget melihat ketidaktegasan Tom. Yang bisa begitu saja menjalani hari-harinya bersama Summer tanpa kejelasan status. 



Dengan menonton film ini, paling tidak membuat kita berpikir bagaimana bila berada di posisi Tom yang sudah sungguh-sungguh mencintai seseorang tapi harus dikecewakan. Tapi sebenarnya itu semua juga karena kesalahannya mengapa tidak tegas, apalagi ia seorang lelaki. Intinya komitmen itu sangat penting dalam sebuah hubungan. Kalo gak ada komitmen lebih baik gak usah dijalani, daripada ujung-ujungnya bikin sakit. betul gak?
o iya, ada satu lagi kesamaan saya dengan Summer. yaitu heart-shaped birthmark di dekat leher saya. haha... (penting gak sihh....)